Kembali ke semua artikel
AIAgentic AIAutomationOpinion

Clawdbot: Lobster Merah yang Siap Membunuh Super App Kita

Moltbot rebranding jadi Clawdbot. Agentic AI viral yang bisa check-in pesawat otomatis dan ubah cara kita berinteraksi dengan aplikasi.

Clawdbot: Lobster Merah yang Siap Membunuh Super App Kita
2 Februari 2026 pukul 02.47

Tunggu dulu. Kenapa logonya harus Lobster? Pertanyaan konyol itu terus menampar saya saat pertama kali membuka dasbor Clawdbot.

Dulu kita mengenalnya sebagai Moltbot—nama yang jujur saja terdengar seperti penyakit kulit—tapi rebranding ini membawa aura baru. Aura bahaya. Dan satu hal yang pasti: mereka tidak sedang bercanda.

Bukan Chatbot Manja

Lupakan ChatGPT. Serius, buang jauh-jauh ekspektasi Anda tentang chatbot sopan. Jika ChatGPT adalah pustakawan manis yang takut salah bicara, Clawdbot adalah Agentic AI liar yang siap mendobrak pintu demi majikannya.

Dia tidak didesain untuk chatting manja. Dia didesain untuk eksekusi. Titik. Komunitas OpenClaw—otak gila di balik proyek ini—sedang membangun sesuatu yang ambisius: jejaring sosial yang dibangun oleh dan untuk AI. Bukan untuk mata manusia.

Saya sebut anomali karena tampilannya "Scrappy". Kasar. Berantakan. Tidak ada UI mulus ala Apple Vision Pro atau Silicon Valley di sini. Tapi saat saya melihatnya bekerja? Mind-blowing.

Solusi War Tiket Mudik?

Fitur check-in pesawat otomatisnya adalah bukti nyata. Bayangkan neraka duniawi bernama "War Tiket Mudik" di Traveloka atau Garuda Indonesia (Garuda Miles).

Saat server down dan jempol Anda keriting me-refresh aplikasi KAI Access, Clawdbot menyelinap lewat jalur belakang API. Tahu-tahu: Ting! Boarding pass Lion Air sudah masuk ke WhatsApp. Tanpa drama. Tanpa emosi. Dingin seperti es batu.

Dan integrasi Google Calendar-nya? Ini level lain. Dia bukan sekretaris; dia diktator jadwal. Ada rapat bentrok di Zoom? Dia geser. Ada holiday? Dia blokir. Semuanya otomatis via agen otonom.

Saya sampai merinding melihat betapa efisiennya kode-kode ini bekerja, seolah-olah mereka punya nyawa sendiri. Berbeda dengan perangkat gagal seperti Rabbit R1 yang mahal atau Humane Pin yang panas, Clawdbot berjalan di software, gratis, dan efektif.

Scrappy is the new Sexy

Mari bicara soal estetika. Di era di mana setiap startup berlomba membuat aplikasi yang 'clean' dan 'minimalis', Clawdbot tampil seperti bengkel mekanik yang penuh oli. Kabelnya semrawut. Tapi justru itu yang membuatnya seksi.

Para developer menyebutnya Scrappy. Saya menyebutnya: jujur. Dia tidak bersembunyi di balik animasi loading yang cantik. Dia menunjukkan log prosesnya. Baris demi baris kode Python yang dieksekusi muncul di layar, memberikan rasa kontrol ilusi kepada kita.

Jujur, sebagai warga +62 yang hidupnya diperbudak aplikasi—pagi buka Gojek, siang buka Shopee, malam buka Tokopedia—saya merasa campur aduk.

Di satu sisi, ini surga. Siapa yang menolak asisten yang bisa belanja di Alfagift tanpa disuruh? Mendapat konfirmasi pengiriman J&T Express otonom? Tapi di sisi lain... menyerahkan kunci kerajaan digital alias password akun ke algoritma Lobster? Ngeri-ngeri sedap, bos. Itu butuh iman tingkat tinggi.

Mimpi Buruk atau Fajar Baru?

Kita juga harus bicara soal OpenClaw. Bayangkan sebuah ekosistem tertutup, mirip Reddit atau Kaskus, tapi 100% penghuninya adalah bot. Mereka saling bernegosiasi. Bot saya bicara dengan bot Traveloka, tawar-menawar harga tiket, sementara saya tidur nyenyak.

Ini adalah mimpi basah para geek, tapi mimpi buruk bagi privasi. Bayangkan jika teknologi ini diadopsi oleh layanan publik kita. Aplikasi PLN Mobile atau M-Paspor yang kadang bikin emosi?

Lepaskan saja 1000 Clawdbot ke sana. Biarkan mereka yang mengurus birokrasi, sementara kita bisa fokus melakukan hal lain—seperti berdebat di Twitter atau menonton TikTok.

Menurut pendapat subjektif saya, ini bukan sekadar alat bantu. Ini adalah lonceng kematian. Bahwa era "Super App" yang gendut dan lamban akan segera mati. Digantikan oleh agen-agen kecil, gesit, dan agresif seperti Clawdbot.

Pertanyaannya bukan lagi "apakah teknologi ini siap?", tapi "beranikah mental kita?". Saya? Entahlah. Mungkin saya sudah terlalu lelah untuk peduli. Silakan ambil data saya, Tuan Lobster, asalkan tiket mudik saya aman tahun depan.